Hambatan Utama Adopsi Pembayaran Digital dan Pengelolaan Keuangan
Sebuah laporan dari DANA Indonesia menyoroti bahwa banyak pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia masih belum memanfaatkan layanan pembayaran digital seperti QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Kondisi ini diidentifikasi sebagai salah satu tantangan signifikan dalam upaya mempercepat digitalisasi sektor usaha kecil di tanah air.
Olavina Harahap, Direktur Komunikasi DANA Indonesia, menyatakan bahwa temuan ini berasal dari peserta program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026, yang melibatkan lebih dari 6.800 UMKM perempuan dan perempuan penyandang disabilitas dari berbagai wilayah. Ia menambahkan, bahkan peserta program yang didorong untuk memiliki QRIS sebagai alat penjualan, belum semuanya memilikinya, padahal ini merupakan aspek krusial dari digitalisasi keuangan.
Penggunaan layanan pembayaran digital menjadi kebutuhan mendesak bagi UMKM, mengingat semakin banyak konsumen yang beralih ke transaksi nontunai. Konsumen saat ini cenderung lebih memilih menggunakan QRIS, sehingga ketiadaan layanan keuangan digital dapat menghambat potensi penjualan.
Tantangan Pengelolaan Administrasi Keuangan
Selain adopsi QRIS, perusahaan tersebut juga mengidentifikasi bahwa banyak UMKM belum mengelola administrasi keuangan dengan baik. Banyak pelaku usaha masih mencampuradukkan keuangan pribadi dengan usaha, serta belum memiliki pencatatan arus kas yang rapi. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan digital menjadi salah satu materi utama dalam program SisBerdaya.
Olavina menjelaskan bahwa pelatihan ini mengajarkan cara mengatur keuangan secara digital untuk UMKM. Hal ini penting karena pencatatan yang lebih baik akan mempermudah akses terhadap pembiayaan di masa depan. Peserta juga didorong untuk memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha) sebagai bagian dari legalitas usaha dan memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pemasaran produk.
Dampak Program dan Prospek Masa Depan
Program SisBerdaya, yang diinisiasi oleh DANA bersama Ant International Foundation sejak tahun 2023, bertujuan meningkatkan kapasitas UMKM perempuan melalui pelatihan, pendampingan, dan pemanfaatan teknologi. Program ini diperluas pada tahun 2024 melalui DisBerdaya, yang menargetkan perempuan penyandang disabilitas.
Tahun ini, program tersebut menjaring lebih dari 6.800 peserta, dengan 35 finalis terpilih mengikuti mentoring intensif dan berkesempatan memperoleh bantuan pengembangan usaha senilai total Rp750 juta. Evaluasi pelaksanaan program sepanjang tahun 2023-2025 menunjukkan bahwa peserta mencatat rata-rata peningkatan pendapatan sebesar 113 persen dan pertumbuhan produksi sebesar 126 persen dalam enam bulan setelah mengikuti pendampingan.
Kategori usaha yang paling banyak diikuti peserta tahun ini berasal dari sektor makanan dan minuman (52 persen), diikuti fesyen dan aksesori (23,3 persen), serta kerajinan tangan (8,8 persen). Ke depan, penyelenggara program berharap para pelaku UMKM yang telah terintegrasi dalam ekosistem digital dapat memperoleh akses pembiayaan melalui layanan yang tersedia, meskipun implementasinya masih bertahap.